Air mata Rasululllah Saw.
Thursday November 27th 2008, 10:38 pm
Filed under: Uncategorized

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan

> salam.

> “Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

> Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang

> demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

>

> Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka

mata

dan

> bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”

> “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku

melihatnya,”

> tutur Fatimah lembut.

>

> Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang

menggetarkan.

> Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak

dikenang.

>

> “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah

yang

> memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata

> Rasulullah,Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

> Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa

Jibril

> tidak ikut sama menyertainya.

> Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas

langit

> dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

> “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?”, tanya

Rasululllah

> dengan suara yang amat lemah.

> “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti

ruhmu.

> Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

> Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih

penuh

> kecemasan.

> “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?”, tanya Jibril lagi.

> “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

> “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah

berfirman

> kepadaku:

> ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah

berada

> didalamnya,” kata Jibril.

>

> Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.

> Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah

bersimbah

> peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul

maut

> ini.”

>

> Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang

disampingnya

> menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau

melihatku,

> hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada

>

> Malaikat pengantar wahyu itu.

> “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata

> Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit

yang

> tidak tertahankan lagi.

>

> “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini

> kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan

> dadanya sudah tidak bergerak lagi.

>

> Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera

> mendekatkan telinganya.

> “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”

> “peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

> Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling

berpelukan.

>

> Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan

> telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

> “Ummatii,ummatii,ummatiii?” - “Umatku, umatku, umatku”

> Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

>

> Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala

Muhammad

> wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

>

Alangkah indahnya hidup ini andai dapat kutatap wajahmu

kan pasti berlinang airmataku karna pancaran ketenanganmu

Alngkah indahnya hidup ini andai dapat kupeluk dirimu

tiada kata yang dapat aku ungkapkan, hanya Tuhan saja yang tahu

Yaaaa RosulAllah Ya habibAllah

tak pernah kutatap wajahmu

> Yaaaa RosulAllah Ya habibAllah

Kami rindu padamu

Kutahu bimbangmu tentang kami

syafaatkan kami

kutahu cintamu pada kami

ummatii ummatii

NB:

> Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul

kesadaran

untuk

> mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan

Rasulnya

> mencintai kita.